BUDAYA KEMPONAN DAN JAPPE’ PADA MASYARAKAT MELAYU SAMBAS

BUDAYA KEMPONAN DAN JAPPE’ 
PADA MASYARAKAT MELAYU SAMBAS

Oleh: Mastura



Secara geografis, kebudayaan kemponan berkembang di Sambas dan sekitarnya, budaya ini tidak diketahui sejak kapan munculnya dan sullit untuk dipastikan, tradisi atau budaya iini disebut dengan tradisi sejuta umat karena hampir semua orang mengetahuinya. Secara etimologis “kemponan” atau dalam Bahasa Indonesia disebut dengan “kempunan”. Secara etimologis kemponan atau kempunan adalah kesukaran, kebimbangan, serba salah, merugi atau keadaan merasa sangat celaka karena amat kecewa. Secara definisi, istilah kemponan adalah rasa takut atau cemas yang timbul karena adanya sugesti dalam diri seseorang, kemudian takut akan terjadinya hal buruk aibat dari seseorang menolak tawaran untuk makan dan minum. Banyak yang mengatakan dan percaya akan budaya kemponan yaitu masyarakat Sambas percaya bahwa jika seseorang melanggar kemponan maka akan sangat besar resikonya seperti terjadinya musibah dan hal buruk lainnya. Tetapi ada juga Sebagian orang yang tidak mempercayai budaya tersebut atau disebut dengan mitos atau pamali.


“Kemponan” yang sudah menjadi budaya di Sambas ini memiliki beberapa penyebab terjadinya budaya kemponan yaitu karena sudah dilaksanakan atau diimplementasikan secara turun temurun, melalui sugesti yang diberikan sehingga membuat sebagian masyarakat tersebut khawatir yang mana khawatir disini dapat diartikan sebagai perasaan yang bimbang atau sikap berpikir yang terlalu berlebihan atau terlalu cemas dalam memikirkan suatu hal atau suatu situasi. Pada kondisi parah, khawatir bisa menyebabkan kecemasan dan kepanikan yang menyebabkan kecemasan dan kepanikan yang menyebabkan orang tersebut hilang kendali atau tidak stabil jika tida cepat diatasi, oleh sebab itulah dari kecemasan yang berlebihan membuat seseorang mengalami hal yang tidak diinginkan atau dapat berdampak negatif. Contohnya seperti terlalu khawatir sehingga selalu kepikiran yang buruk atau bisa disebut was-was, yang pada akhirnya mereka tidak fokus apa yang mereka kerjakan dan karena tidak fokus itulah menyebabkan mereka menjadi celaka.


Di masayarakat melayu Sambas, “kemponan” bisa diatasi atau dihindari dengan tradisi yang dipercaya bahwa kemponan akan hilang yaitu “japai”. Dengan mengucapkan mantra tersebut orang yang ditawari mencolet atau menyentuh dengan ujung jarinya pada makanan atau minuman tersebut dan menjilat ujung jari atau hanya menyentuhkan kebibir saja. Setelah melakukan hal tersebut maka dapat dipercaya bahwa “kemponan” akan hilang.


Akan tetapi, menurut saya mantra kemponan itu tidaklah nyata, mengapa saya mengatakan demikian? Karena secara logika atau rasional mantra tersebut hanya memberikan efek sugesti kembali kepada si pelaku atau yang ditawari makanan atau minuman, sehingga dapat memberikan efek rasa ketenangan, keamanan, serta menghilangkan rasa khawatir karena sugesti tersebut. Bukan berarti kita harus menghilangkan budaya “kemponan” karena budaya atau tradisi ini merupakan kekayaan yang harus dijaga agar tidak luntur ditelan masa dan boleh diceritakan ke anak cucu kita nanti, namun sebaiknya tradisi atau budaya ini tidak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari karena akan berdampak buruk pada kesehatan fisik maupun mental. Intinya kita harus meyakini dan percaya bahwa musibah itu terjadi karena takdir atau karena kecerobohan kita sendiri.

Komentar